Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label perkembangan flu babi. Show all posts
Showing posts with label perkembangan flu babi. Show all posts

Tuesday, July 14, 2009

Pasien Flu Babi di Indonesia Mencapai 112 Orang

Jumlah Suspect Tembus 112 Orang JAKARTA - Penyebaran virus influenza A, H1N1 (flu babi), makin tidak terkendali. Setiap hari, pertambahan kasus baru dilaporkan oleh sekitar 20 pasien. Kemarin (14/7) ada 26 kasus baru. Terdiri atas 11 pasien laki-laki dan 15 perempuan. Sebanyak 26 pasien itu terdiri atas 2 WNA dan 24 WNI. Rinciannya, 16 orang dari Jakarta, Medan 1 orang, Banten 6 orang, Surabaya 1 orang, dan Manado 2 orang. ''Tiga di antara pasien itu me­miliki riwayat perjalanan ke luar ne­geri,'' terang Tjandra Yoga Adi­tama, Dirjen Pengendalian Pe­­nyakit dan Penyehatan Ling­kung­an (P2PL) Depkes, kemarin. Dua orang baru saja bepergian ke Malaysia dan satu orang ke Australia. Dengan demikian, kata Tjandra, hingga kemarin secara kumulatif kasus influenza A H1N1 positif di Indonesia mencapai 112 orang, yang terdiri atas 63 laki-laki dan 49 perempuan. Dua kasus positif flu babi berawal pada 24 Juni lalu. Kemudian, peristiwa itu disusul pada 29 Juni (6 kasus), 4 Juli (12 kasus), 7 Juli (8 kasus), 9 Juli (24 kasus), 12 Juli (12 kasus), dan 13 Juli (22 kasus). Untuk mencegah penyebaran flu babi di Indonesia, Depkes telah mengambil beberapa upaya antisi­patif. Misalnya, pencegahan di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) berupa penyiapan radio pratique, thermal scanner, pemberian health alert card kepada penumpang, dan pemeriksaan terhadap pendatang yang dicurigai sebagai suspect. Selain itu, Depkes telah menyiap­kan 100 RS rujukan yang tersebar di seluruh Indonesia. ''Puskesmas juga dikerahkan untuk membantu pen­cegahan,'' terangnya. Terma­suk, melacak orang-orang yang kontak dengan penderita. Diagnosis di laboratorium juga terus dila­kukan. Depkes juga rutin berkoordinasi dengan Depkes negara-ne­gara lain. ''Kami terus memantau berapa warga kita yang ada di luar ne­geri,'' ujar Tjandra. Pakar flu burung dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Air­langga (Unair) Dr C.A. Nidom mengatakan, penyebaran virus H1N1 tidak dapat dicegah. Sebab, virus itu mewabah di seluruh dunia. Karena terus bertambah, Dep­kes seharusnya menambah la­boratorium di berbagai daerah untuk mempercepat pemeriksaan suspect flu babi. ''Sekarang ini pemeriksaan flu babi selalu dibawa ke Balitbangkes. Itu membutuh­kan waktu lama. Ketika menunggu hasil pemeriksaan, apa pun bisa terjadi,'' ujarnya. Depkes seharusnya lebih tanggap merespons persebaran H1N1. Sementara itu, empat di antara 28 anggota rombongan yang ba­ru saja pulang dari Korea Selatan harus menginap di RSU dr Sardjito kemarin (14/7). Mereka diduga suspect virus H1N1 setelah menjalani pemeriksaan di rumah sakit tersebut.Keempat orang itu adalah dokter. Sehari-hari mereka bertugas di RSU dr Sardjito. Kini mereka ha­rus dirawat di ruang khusus dan dipisahkan dengan lima pasien suspect flu babi yang berada di Ruang Isolasi Kartika.Sebanyak 32 anggota rombongan dari Jogja, yang terdiri atas dokter dan penata rias serta pelatih vo­kal, baru saja mengikuti lomba paduan suara di Korea Selatan. Mereka tiba di Indonesia Senin (13/7) melalui Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Karena seluruh penerbangan menuju Jogja penuh, rombongan lantas pulang ke Jogja dengan me­nyewa sebuah bus. Dikhawatirkan, rombongan itu membawa vi­rus H1N1, mengingat 14 anak ang­gota grup vokal Elfa Secioria yang juga mengikuti ajang kompe­tisi di Korsel itu telah dinyatakan positif mengidap flu babi.Atas koordinasi antara Dinas Ke­sehatan Provinsi DIJ dan pihak RSU dr Sardito, rombongan tersebut diharuskan melalui pemeriksaan di RSU dr Sardjito begitu tiba di Jogja dan sebelum pulang ke rumah masing-masing. Rombongan yang tiba di Jogja Senin (13/7) malam itu menjalani pemeriksaan hingga pukul 02.00, termasuk seorang sopir dan kernet bus yang membawa mereka dari Bali. Mereka wajib diperiksa karena di­ketahui satu pesawat dengan penderita flu babi dari Korea yang dipulangkan ke Indonesia. Dari hasil pemeriksaan tersebut, empat dokter dinyatakan suspect. Mere­ka menunjukkan gejala yang sa­ma pada penderita flu babi. Awal­nya, hanya seorang dokter yang dirawat di ruang khusus ter­sebut. Tiga lainnya yang dinya­takan suspect diperbolehkan pulang dengan ketentuan menjaga jarak dengan orang lain. Namun, sebelum sampai di ru­mah masing-masing, mereka ber­ubah pikiran dan kembali ke RSU dr Sardjito dan minta dirawat. ''Ketika akan bertemu keluarga, me­reka malah ragu-ragu dan kem­­bali ke RSU dr Sardjito me­min­ta untuk dirawat khusus,'' ujar Ketua Tim Penanggulangan Flu Burung/Flu Babi RS Sardjito dr Sumardi kemarin (14/7).Sebelum empat dokter tersebut, di ruang isolasi juga masuk seorang yang diduga suspect flu babi. Dia adalah petugas cleaning service (CS) di RSU dr Sardjito. De­ngan demikian, hingga siang kemarin, jumlah pasien suspect H1N1 yang dirawat ada sembilan orang. Mereka terdiri atas tiga teman pa­sien pertama yang baru pulang dari California dalam rangka per­tukaran pelajar, seorang maha­siswa PTN di Jogja asal Australia, seorang petugas CS, serta empat dokter. Namun, pada sore hari, empat pasien suspect diperboleh­kan pulang karena sudah me­nun­jukkan kesembuhan. Total yang masih dirawat di RS Sardjito ting­gal lima orang.Satu Suspect Mati di Bali Di tempat terpisah, kemarin nya­wa seorang suspect flu babi di Bali tak tertolong. Dia adalah montir pesawat Lion Air, Slamet Subagio, 53. Sebelum meninggal, korban sempat ke Singapura. Meski begitu, pi­hak RS Sanglah belum mau me­nga­takan penyebab kematian korban. Mereka masih menunggu hasil La­boratorium Litbangkes untuk memastikan apakah korban positif flu babi atau meninggal karena sakit lain. Berdasar keterangan pi­hak RS Sanglah, korban berasal dari Sidoarjo dan tinggal di Perumahan Taman Penta, Jimbaran. Dia datang Senin (13/7) dini hari lalu. Saat itu Slamet mengeluh sa­kit, kemudian keluarga mengajak­nya ke RS Kasih Ibu. Karena kondisi tidak bagus dan jan­tungnya berdegup sangat ken­cang, RS Kasih Ibu tidak berani mengambil tindakan. Slamet di­rujuk ke RS Sanglah. Masuk IRD RS Sanglah pukul 04.00, korban lang­sung mendapat penanganan cukup lama. Tapi, keluarga tidak men­jelaskan bahwa korban sempat masuk Singapura. Baru sekitar pukul 07.00 Wita istri korban, Ely Renata, menyampaikan bahwa suaminya baru Kamis lalu (9/7) datang dari Singapura.Sontak petugas terkejut karena Singapura adalah negara yang sudah pandemi flu babi. Bahkan, semua petugas langsung menggunakan masker dan perlengkapan standar penanganan flu babi. ''Petugas UGD-nya (IRD) terkejut. Mereka tidak tahu, suami saya sempat ke Singapura. Setelah itu baru mendapat tindakan untuk isolasi," ujar Ely Renata.Ketika dirawat di sal Nusa Indah atau isolasi flu babi, kondisi Sla­met semakin parah. Pukul 09.00 Wita Slamet mengembuskan napas terakhir. (kit/art/ nis/yog/has/jpnn/iro)



Selengkapnya...

Friday, June 26, 2009

Flu babi mulai merambah ke Indonesia

RS Sanglah Isolasi Empat Warga Australia DENPASAR - Serangan virus flu babi di tanah air semakin sulit dibendung. Pulau Bali, tampaknya, menjadi sasaran utama virus H1N1 di Indonesia. Buktinya, setelah RS Sanglah mengisolasi dua pasien asing asal Australia -yang satu positif dan seorang lagi berstatus suspect influenza A (H1N1)- kemarin rumah sakit rujukan terbesar di Bali-Nusa Tenggara itu kembali kedatangan tujuh warga Australia.Namun, di antara tujuh orang yang menjalani pemeriksaan dan screening di ruang isolasi Nusa Indah, hanya dua yang dinyatakan suspect H1N1 (selengkapnya lihat grafis). Kini mereka mendapat penanganan ekstra dari para medis. Tim dokter penanganan flu A (H1N1) dr Agus Somia SpPD menyebutkan, ketujuh warga asing itu diperkirakan sama-sama menumpang pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 719 bersama pasien sebelumnya (Bobbie Masoner, 22, dan George Coltman, 14).Dengan kedatangan pasien baru asal Negeri Kanguru pukul 14.58 kemarin, saat ini RS Sanglah mengisolasi empat pasien H1N1. Seorang positif dan tiga di antaranya masih suspect. Sebelumnya, khusus WNI, empat orang positif flu babi di luar negeri. Yakni, tiga orang di Singapura dan satu WNI tinggal di Australia. Dua orang diduga mengidap virus H1N1 di Tiongkok, yakni satu petugas Depkes di Beijing dan satu orang di Makau.Kepala Bidang Pelayanan Medik RS Sanglah dr Gusti Lanang Suartana menjelaskan, kedua pasien ''kloter" pertama sudah membaik. ''Khusus pasien Bobbie, diperkirakan bisa meninggalkan rumah sakit 1-2 hari ke depan. Bobbie sudah tujuh hari dirawat sejak mengalami gejala flu dan menjalani isolasi di RS," jelasnya. Dengan kemungkinan bertambahnya pasien flu babi, lanjutnya, RS Sanglah akan menambah ruang isolasi. ''Mungkin kita bisa menampung hingga maksimum 23 pasien. Jika kejadian pasien masal, RSUD Tabanan dan Gianyar bisa dijadikan alternatif rujukan," sebut Suartana.Terkait kondisi dua pasien baru suspect flu A (H1N1), yakni Tayla Marlo, 14, dan James Antonuccio, 10, yang sama-sama menginap di Sofitel Seminyak, Bali, ada gejala klinis menderita panas, batuk, dan pilek. Namun, pihak rumah sakit telah melakukan pengobatan dan mengambil sampel, lalu mengirimkannya ke Litbangkes.Gara-gara tambahan empat pasien H1N1, RS Sanglah harus mengevakuasi belasan pasien ke sal lain. Sebelumnya, sejak kedatangan Bobbie Masoner, pihak RS mengevakuasi 11 pasien ke sal Nusa Indah. Menurut Suartana, ke-11 pasien itu dipindah ke ruang Lely, ruang Angsoka I, dan Angsoka II. Sebagian lagi dipindah ke ruang Bakung Barat. Bahkan, kemarin di luar kasus flu A (H1N1), seorang warga asing asal Inggris, Alexandra Honour, 32, juga menjalani perawatan di kamar Jepun Bali, Paviliun Wings Internasional. Turis wanita yang diketahui menginap di Hotel Melia Benoa itu dirujuk ke RS Sanglah setelah didiagnosis menderita influenza. Namun, tidak dijelaskan apakah pasien mengarah ke H1N1.Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Denpasar kelabakan dengan tambahan suspect flu babi itu. Ketua KKP Kelas I Denpasar dr Nyoman Murtiyasa mengaku akan lebih memperketat pengawasan, khususnya bagi tamu asing yang baru datang dari Australia. ''Ya, daerah tersebut sudah terkonfirmasi sebagai pandemik virus H1N1," terangnya.Selain mengaktifkan kembali alat thermal scanner di Bandara Ngurah Rai, pihaknya memaksimalkan petugas kesehatan. ''Kami sudah menyiapkan 60 petugas yang terbagi dalam tiga jadwal, lengkap dengan alat pelindung diri," paparnya.Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Bali dr Nyoman Sutedja MPH menyatakan terus mengidentifikasi para penumpang. Termasuk 45 penumpang GA 719 rute Victoria-Bali yang saat ini berada di Bali. Diskes juga mengumpulkan para petugas klinik agar lebih waspada terhadap tamu asing. ''Bagi wisman yang suhunya terdeteksi di atas 37,8 derajat Celsius, petugas diharapkan langsung membawanya ke puskesmas untuk mendapatkan tamiflu," sarannya. Pihaknya juga menyiapkan 54 ribu kapsul tamiflu. Kapsul itu disebar ke semua kabupaten/kota, termasuk KKP dan RS Sanglah. Masing-masing menerima 3.500 tablet. Selain pengawasan terhadap wisman, Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan (Disnakanlut) Denpasar di Jalan Keresek Sidakarya juga turun ke lapangan untuk menyemprot babi milik masyarakat. ''Sebenarnya sudah rutin (penyemprotan, Red). Tapi, sekarang lebih kami intensifkan pascakasus positif flu babi di RS Sanglah," papar Kadisnakanlut Denpasar Dewa Made Ngurah. Disnakanlut Denpasar juga mendapat gelontoran desinfektan dan masker dari Dinas Peternakan Bali. ''Setiap ada kiriman babi yang masuk RPH, langsung kami semprot dengan desinfektan. Baik itu ternaknya, mobil pengangkut, maupun pengemudi," jelas Dewa Ngurah.Tinggal Menunggu Waktu Menyebarnya virus influenza A (H1N1) ke Indonesia tinggal menunggu waktu. Hal itu diungkapkan Ketua Laboratorium Flu Burung Universitas Airlangga (Unair) Prof Dr drh Chairul Anwar Nidom. Kendati demikian, kata Nidom, pemerintah maupun masyarakat tak perlu terlalu merisaukan persebaran virus itu di Indonesia.''Malaysia, Singapura, dan Filipina saja sudah kena. Indonesia pun demikian, tinggal menunggu waktu. Ini sudah sunatullah, seberapa tangguhnya sih kita menangkal masuknya virus itu di negara ini,'' ujarnya kemarin. Nidom mengimbau pemerintah maupun masyarakat agar tak terlalu panik. Sebab, berdasarkan uji penelitian yang dilakukan laboratorium Unair, virus H1N1 tidak seganas H3N2 (seasonal flu). Hanya, tingkat persebaran virus H1N1 lebih masif dan cepat. Karena itu, menurut Nidom, pemerintah tak perlu terlalu berkutat mencegah masuknya virus tersebut di Indonesia. ''Cepat atau lambat pasti terjadi,'' ujarnya. Yang harus diperhatikan pemerintah saat ini adalah mencegah berkoalisinya virus H1N1 dan H5N1. Menurut Nidom, koalisi kedua virus itu bakal berdampak buruk terhadap kesehatan. Pertemuan kedua virus itu akan menghasilkan 60 varian virus baru. Padahal, karakteristik H5N1 bersifat ganas, sedangkan H1N1 persebarannya cepat. ''Kalau hanya H1N1, morbiditas (angka kesakitannya, Red) tidak begitu tinggi. Tapi, jika keduanya bergabung, dampaknya cukup besar terhadap kesehatan,'' cetusnya.Indonesia, kata dia, patut mewaspadai terjadinya hal itu. Pasalnya, Indonesia telah memiliki syarat cukup kuat untuk bertemunya dua varian virus tersebut. Yakni, masih adanya virus H5N1. Ini disebabkan pemerintah tidak pernah tuntas mengatasi flu burung. Syarat itu tidak dimiliki negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, maupun Jepang. ''Karena itu, mereka tidak perlu khawatir seperti Indonesia. Sebab, mereka tak memiliki sejarah flu burung seperti negara kita,'' jelasnya. Nidom menambahkan, ada beberapa syarat bertemunya H1N1 dan H5N1. Pertama, ada koalisi varian dua virus tersebut. Nah, kata Nidom, berkoalisinya dua virus itu bisa terjadi di tubuh babi. Koalisi di tubuh manusia juga bisa terjadi kendati probabilitasnya lebih rendah. ''Kemungkinannya tidak setinggi di tubuh babi, meski keduanya sama-sama memiliki reseptor,'' tuturnya. Sementara, unggas tidak memiliki medium yang efektif untuk dimasuki virus tersebut. Pemerintah harus mencegah kemungkinan koalisi virus tersebut sejak awal. Pertama, membenahi penataan sistem peternakan di Indonesia. ''Pemerintah tak pernah tuntas menyelesaikan persoalan ini.'' cetusnya. Padahal, penataan sistem peternakan berdampak terhadap persebaran virus H5N1. Kedua, perintah harus memikirkan regionalisasi pemeriksaan virus. Selama ini hasil pemeriksaan seseorang yang diduga terkena virus H1N1 maupun H5N1 selalu dilakukan Balitbangkes Depkes. Termasuk, penetapan status pasien positif dan tidaknya terkena virus H1N1 atau H5N1.Seharusnya, kata Nidom, di setiap daerah didirikan laboratorium pemeriksaan. Dengan demikian, bila sewaktu-waktu ada yang terkena virus tersebut dapat dilakukan pemeriksaan secara cepat dan hasilnya bisa diketahui. ''Saya sudah sering mengusulkan masalah ini,'' kata Nidom. Menurut dia, hal itu penting untuk mencegah penyebaran virus tersebut secara masif. Ketiga, Depkes bisa memetakan daerah mana saja yang merupakan hot spot virus H5N1. ''Dengan demikian, bisa dilakukan surveillance dan pencegahan agar H1N1 tidak masuk ke daerah-daerah tersebut,'' ujarnya. Saat ini, kata Nidom, Jabotabek masih merupakan daerah hot spot H5N1. Karena itu, pemerintah harus mengantisipasinya sejak dini. ''Bagaimana memperlakukan daerah itu dibanding daerah lain,'' ungkapnya. Apalagi, Jakarta dan sekitarnya dinilai merupakan tempat berkumpulnya spesimen virus yang dikirimkan dari berbagai daerah. Sementara itu, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Depkes Tjandra Yoga mengkhawatirkan tingginya kunjungan turis ke Bali berdampak terhadap persebaran H1N1. Kendati demikian, Depkes merasa belum perlu membatasi jumlah wisatawan yang datang. ''Kita tidak bisa mencegah atau melarang hal itu,'' ujar Tjandra. Toh, kata dia, di bandara sudah tersedia thermo scaner. ''Kita perketat pemeriksaan dengan alat itu,'' ujarnya. Di samping itu, pengunjung dari negara yang terkontaminasi virus tersebut telah diberi health alert card. Begitu menunjukkan gejala terkena virus influenza A baru (H1N1), mereka segera dirujuk ke RS Sanglah. (kit/pra/cas/jpnn/iro)



Selengkapnya...